Sobat, kenalkan namaku Indonesia. Jangan salah mengeja ya, INDONESIA. Ini cerita tentang diriku, tetanggaku, teman-temanku, dan semua yang ada di sekitar aku. Aku punya tetangga sekaligus adik kelasku semasa kuliah dulu namanya Malaysia. Saat ini umurku….hemmm berapa ya..? Rahasia deh, sama seperti teman2 di FB yang suka merahasiakan umurnya.. hehehe…
Oiya, aku malu lho sama adik kelasku yang tetanggaku itu. Coz, dari segi umur emang aku lebih tua dikit dari dia, dan dia dulu lebih dulu belajar dari aku, sehingga aku sering disebutnya sebagai “guru” oleh dia. Nah yang membuat aku malu adalah karena dia sekarang lebih “pinter” dari aku. Kalo dulu dia sering belajar dari aku, tapi sekarang kebalik, aku yang harus sering belajar ke dia, sehingga aku pun sekarang harus memanggilnya “guru”.
Kadang aku dengan tetanggaku Malaysia ini sering berantem, karena kami sangat dekat sekali maka sering main-mainanku ketukar trus diklaim sama si Malaysia sebagai mainannnya. Aku sih nggak papa, biarin aja deh, kata pak ustad Jono “orang sabar dan ikhlas itu bisa masuk surga”… hahaha..
Sobat, aku juga punya tetangga bernama Singapura. Tapi tetanggaku satu ini agak belagu orangnya, mungkin karena dia diangkat anak asuh oleh Australia dan Amerika, sehingga dia pernah ngegosipin aku, bahwa “Indonesia itu sarang teroris”. Makanya aku sendiri agak sensi kalo harus bertetangga dengan dia. Tapi sayang Sobat, meski aku dikatai seperti itu, aku tidak bisa dan tidak berani membalasnya. Aku lebih suka berpenampilan sopan di dalam pergaulan, daripada harus membalas ocehan tetanggaku Singapur itu. Lagi-lagi aku harus mengalah dan memilih bungkam.
Sobat, saat ini tepatnya bulan oktober 2010 aku sedang mengalami duka yang mendalam, aku banyak menangis, bencana alam masih setiap menyapaku. Disamping bencana alam, ada juga bencana kemanusiaan yang aku alami. Aku terkena banjir, terkena tubrukan kereta api, dll.
Sobat bukannya sombong, sebenarnya aku bisa dibilang sangat kaya. Sebab aku punya emas yang tersimpan di Jayawijaya, punya minyak bumi yang hampir tersimpan di seluruh pelosok negeri, cadangan gas ku juga termasuk cadangan gas terbesar diantara tetanggaku. Tapi sayang sobat, kekayaanku tersebut sekarang, tidak bisa aku nikmati. Menurut “pengasuh” ku, kalau kekayaan itu di privatisasi alias dijual, maka aku akan semakin kaya dan menjadi “Indonesia yang maju”. Namun rupanya itu cuman bohong-bohongan, buktinya sejak 1976 kekayaan emas ku yang digadaikan ke PT Freport Amerika, tidak bisa mensejahterakan aku yang sejatinya pemilik sah emas tersebut. Itu baru emas, belum minyak bumi, gas, dan kekayaan tambang yang lainnya.
Inilah Proposal Nikahku
Kepada Yang Kami Hormati,
Bapak dan Ibu Calon Mertua
Ama ba’du,
Islam sebagai agama yang sesuai fitrah manusia, mensyariatkan adanya pernikahan sebagai bentuk pemenuhan naluri mempertahankan keturunan (gharizah a-nau’). Maka dari itu hikmah dari disyariatkannya perkawinan itu adalah untuk menjaga kelestarian jenis (manusia). Bisa dibayangkan kalo nggak ada perkawinan, pastilah kita sudah musnah sejak jaman nabi adam dan hawa dulu. Itulah kenapa Islam disebut sebagai agama yang sesuai fitrah manusia.
Dalam penciptaan manusia, secara faktual dan terindera, Allah memberikan kepada manusia berupa potensi kehidupan (taqatul hayyawiyah) yang punya kecenderungan kepada manusia untuk melakukan aktivitas biar bisa memenuhi potensi kehidupan tadi. Potensi tersebut, punya dua bentuk manifestasi. Yang pertama, potensi yang menuntut pemenuhannya secara pasti (baca:harus), jika nggak dipenuhi potensi ini, manusia bakal mati atau fisik/jasadnya rusak, inilah yang disebut "kebutuhan jasmani" (hajatul udlwiyyah) berupa makan, minum, buang hajat. Yang kedua, potensi yang pemenuhannya nggak musti atau tidak secara pasti harus dipenuhi, jika nggak dipenuhi potensi ini manusia nggak akan (secara langsung) mati, melainkan cuman agak gelisah, hingga terpenuhinya kebutuhan tersebut, inilah yang disebut dengan "kebutuhan naluri" (gharizah).
Salah satu kebutuhan naluri, adalah kebutuhan naluri untuk suka terhadap lawan jenis. Sekali lagi, naluri nggak harus dipenuhi, tapi kalo nggak dipenuhi efeknya akan menimbulkan resah, sampai terpenuhinya naluri tersebut.
Tentu sebagai seorang muslim yang sudah bersaksi hanya akan menjadikan Allah sebagai sesembahan satu-satunya dan menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan hidup kita, maka segala sesuatu yang terjadi atau yang bakal kita lakoni, harus kita kembalikan ukuranya, standarnya pada standar atau hukum yang telah dibuat oleh Allah, Allah SWT berfirman yang artinya : " ......dan jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya" (QS.An-Nissa 159)
Bapak dan Ibu Calon Mertua
Ama ba’du,
Islam sebagai agama yang sesuai fitrah manusia, mensyariatkan adanya pernikahan sebagai bentuk pemenuhan naluri mempertahankan keturunan (gharizah a-nau’). Maka dari itu hikmah dari disyariatkannya perkawinan itu adalah untuk menjaga kelestarian jenis (manusia). Bisa dibayangkan kalo nggak ada perkawinan, pastilah kita sudah musnah sejak jaman nabi adam dan hawa dulu. Itulah kenapa Islam disebut sebagai agama yang sesuai fitrah manusia.
Dalam penciptaan manusia, secara faktual dan terindera, Allah memberikan kepada manusia berupa potensi kehidupan (taqatul hayyawiyah) yang punya kecenderungan kepada manusia untuk melakukan aktivitas biar bisa memenuhi potensi kehidupan tadi. Potensi tersebut, punya dua bentuk manifestasi. Yang pertama, potensi yang menuntut pemenuhannya secara pasti (baca:harus), jika nggak dipenuhi potensi ini, manusia bakal mati atau fisik/jasadnya rusak, inilah yang disebut "kebutuhan jasmani" (hajatul udlwiyyah) berupa makan, minum, buang hajat. Yang kedua, potensi yang pemenuhannya nggak musti atau tidak secara pasti harus dipenuhi, jika nggak dipenuhi potensi ini manusia nggak akan (secara langsung) mati, melainkan cuman agak gelisah, hingga terpenuhinya kebutuhan tersebut, inilah yang disebut dengan "kebutuhan naluri" (gharizah).
Salah satu kebutuhan naluri, adalah kebutuhan naluri untuk suka terhadap lawan jenis. Sekali lagi, naluri nggak harus dipenuhi, tapi kalo nggak dipenuhi efeknya akan menimbulkan resah, sampai terpenuhinya naluri tersebut.
Tentu sebagai seorang muslim yang sudah bersaksi hanya akan menjadikan Allah sebagai sesembahan satu-satunya dan menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan hidup kita, maka segala sesuatu yang terjadi atau yang bakal kita lakoni, harus kita kembalikan ukuranya, standarnya pada standar atau hukum yang telah dibuat oleh Allah, Allah SWT berfirman yang artinya : " ......dan jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya" (QS.An-Nissa 159)
Inilah Sejarah Amburadul Valentine's Day
(Versi2 Apa dan Siapa Valentine's Day)
Oleh: Luky B Rouf
Siapa Itu Valentine
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day : “Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers.”
Kalo ngobrolin Valentine’s Day (V-Day) cucok banget kalo dimulai dari ngebahas si empunya hari, siapa lagi kalo bukan si Valentine. Yup, Valentine ini bukan Valentino “the doctor” Rossi, si pembalap tangguh yang bernomor favorit 46 itu, tapi Valentine ini yang hidup di masa Romawi kuno, tepatnya di masa Kaisar Cladius II. Memang ada beberapa versi cerita tentang V-Day, termasuk tentang seseorang yang bernama Valentine. Ada sebagian versi menceritakan dengan nama “Valentine”, di cerita lain bernama “Valentino”, bahkan ada yang bilang juga “Valentinus” (backsound: kali aja saat itu ahli sejarahnya salah ketik, karena lagi ngantuk ya..hee..hee). Valentine atau Valentinus sebenarnya adalah nama seorang Martyr, yakni seorang Kristen yang terbunuh karena mempertahankan ajaran agama yang dianutnya. Valentino adalah nama seorang uskup pada abad ke-3 Masehi di masa Romawi (The Standart International Dictionary, XVIII, p. 5090).
Catatan mengenai pendeta yang bernama Santo Valentine itupun masih bias karena hingga saat ini berkembang banyak versi, termasuk tentang latar belakang sejarah vonis hukuman mati yang dijatuhkan oleh penguasa romawi saat itu. Catatan pentingnya adalah kalo diliat dari segi nama aja, udah ketahuan belangnya bahwa sejarah tentang orang yang bernama Valentine itu, nggak jelas. Mungkin dari sebagian sobat remaja ada yang bergumam “ngapain kita ribut masalah nama segala, yang penting khan udah ketahuan kalo akhirnya orang menyebutnya Valentine?”. Well, justru disini letak persoalannya sobat, kejelasan riwayat nama aja bisa ngebuktiin kalo emang sebenarnya cerita itu benar, atawa emang menunjuk pada satu orang. Misal aja neh, kalo di kelasmu ada dua orang yang bernama Parno, padahal keduanya bukan saudaraan, maka salah satunya kudu diperjelas dengan sederet cirinya masing-masing. Dari selidik punya selidik, Parno satunya ternyata nama lengkapnya Suparno, sedang satunya namanya mirip bintang film, Parno Karno… (yee.. itu sih Rano Karno).
Ok, kembali ke masalah Valentine, berarti satu belang udah ketahuan dari segi sejarah nama orang yang dirayain kematiannya tanggal 14 Februari itu. Para pastor Romawi menentukan tanggal 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine. Sekarang ini, hari tersebut lebih dikenal sebagai hari Valentine. Kemungkinan pertama bahwa tiga nama itu menunjuk pada satu orang, atau kemungkinan kedua emang tiga nama itu untuk tiga orang yang masing-masing beda. Mana yang benar? Wallahu’alam. Tapi yang jelas, sekali lagi ini bukti nyata senyata-senyatanya, betapa amburadulnya sejarah orang bernama Valentine. Mustinya neh, para pengagum, penikmat V-Day, udah saatnya menanyakan kengawuran sejarah V-Day ini.
Kata “Valentine” itu sendiri berasal dari bahasa Latin Valentinus yang artinya gagah perkasa. Ketika itu, kalo orang ngasih pujian Valentinus atau gagah perkasa sebenarnya ngasih pujian kepada dewa Baal. Sedang Raja Baal yang pertama namanya adalah Nimrod. Siapa itu Nimrod, trus apa hubungan V-Day dengan Nimrod?
Begini sobat, menurut legenda Yunani Kuno, Nimrod ini dikenal sebagai seorang pemburu anjing ajak yang gagah perkasa. Dalam bahasa Yunani Nimrod lebih dikenal sebagai Pan, sedangkan anjing ajak dalam bahasa Latin disebut Lupus. Nah, oleh orang Rumawi Nimrod dinamakan sebagai Lupercus atau si pemburu anjing ajak. Kalo sobat pernah denger peringatan atau festival Lupercalia yang menurut legenda diperingati setiap tanggal 15 Februari, nah sebenarnya itu diambil dari kata Lupercus. Lupercalia sendiri adalah hari perayaan untuk mendewakan Lupercus alias si pemburu anjing ajak, alias si Nimrod, alias si dewa Baal, alias si Valentinus atau Valentine. Tuhhh khan, ternyata bukan Imam Samudera cs, aja yang punya banyak alias, Valentinus pun punya banyak alias.
Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Tapi sobat di versi lain, di tempat yang sama di Roma dan tanggal yang sama 15 Februari, Lupercus justru untuk menamai sang Dewa Kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata. (VCD Valentines day, Irene Handono)
Wah belang lagi deh. Ternyata emang nggak ada kesepakatan dari para ahli sejarah tentang Lupercalia. Tapi bukan bermaksud membela atau membenarkan sejarah Lupercalia, tapi yang sering dipakai malah versi yang pertama. Nggak menutup kemungkinan versi kedua bisa jadi juga benar. Waduh, tambah pusing binti bingung ya ama sejarah V-Day? Ok, daripada pusing tujuh kali 100 keliling putar lapangan, mending dilanjutin dulu ceritanya.
Konon orang Rumawi banyak yang pengin anaknya gagah perkasa kayak Nimrod, makanya mereka seringkali ngasih nama anaknya Valentine, termasuk mungkin ortunya Valentine yang katanya merupakan seorang pastur yang dipancung di masa Kaisar Cladius II pada abad III Masehi itu.
Di hari Valentine biasanya nggak komplit kalo nggak ada Cupid sang dewa asmara. Cupid biasanya digambarkan dalam bentuk malaikat kecil bersayap dalam keadaan bugil, yang biasanya bawa panah, dan siap memanah pasangan muda-mudi untuk terpanah asmara, katanya sih begitu. But, tahu nggak sobat, Cupid itu sebenarnya adalah gambaran atau lambang ketika Nimrod masih kecil. Makanya kenapa si Cupid itu selalu membawa panah, karena emang menurut legenda seperti yang saya ceritakan sebelumnya tadi, kalo Nimrod adalah seorang pemburu. Cuman yang jadi nggak matching, kalo Nimrod adalah pemburu anjing ajak, tapi kalo Cupid koq digambarkan sebagai pemanah asmara. Wah, emang amburadul benar ya legendanya?!
Tapi emang dasar orang Pagan, nggak tahu mana benar, mana salah, yang penting kalo itu udah jadi kepercayaan kakek moyangnya, ya itu yang terus dijadiin tradisi. Termasuk masih menurut legenda itu juga, diceritakan kalo di masa mudanya Nimrod adalah seorang cowok yang cakep banget. Bahkan kalo ditelusur dari kata valentine tadi, Nimrod alias si Valentine adalah gagah perkasa. Karena saking guantengnya itulah, ia banyak digandrungi sama banyak kaum perempuan (Daniel 11:37) yang bikin nafsu birahi mereka jadi bangkit terbang melayang. Itulah kenapa Nimrod di masa kecilnya juga dikasih nama Cupid yang dalam bahasa Latin disebut Cupere kalo diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai Desire alias membangkitkan nafsu birahi. Jadi Cupid itu memanah bukannya untuk bikin orang jadi saling jatuh cinta, melainkan untuk membikin nafsu birahi orang jadi bangkit. Nah loe ketahuan, makanya kamu nggak usah bangga deh, kalo kamu lagi jatuh cintrong, trus ngerasa di panah sama si Cupid, padahal sebenarnya bukan dipanah tapi dipanas-panasi untuk bernafsu birahi. Hiii… jijay deh.
So, kegantengan Cupid alias Nimrod ini emang ibarat daya magnet yang luar biasa dahsyatnya, sampe-sampe nggak cuman kaum hawa disekitarnya aja yang kena sihir kegantengannya, bahkan ibu kandungnya Nimrod aja Semiramis juga jadi korban, sehingga akhirnya ia mengawini anak kandungnya sendiri itu. Gubrak !
Nah, di tanggal 15 Februari, Nimrod dan Ibunya mengakui kesalahan mereka, sebagai ibu dan anak. Padahal di cerita sebelumnya tanggal 15 Februari dinobatkan sebagai festival Lupercalia. Kenapa bulan Februari? Katanya si empunya dongeng bulan Februari itu sebenarnya berasal dari kata Februa yang artinya penyucian. Ya, penyucian alias pertaubatan dosa si Nimrod dan ibunya, yang katanya mereka akhirnya sadar kalo percintaan yang mereka lakukan itu nggak benar. (Catholic Encyclopedia, 1908)
Kerajaan Babilonia berasal dari kerajaan Baal yang memuliakan dewa Baal. Dalam bahasa kuno Kaldea atau bahasa Babilonia pada saat itu bal berarti hati, maka dari itu juga hati sering jadi lambang dari dewa Baal. Lambang hati ini juga digunakan sebagai lambang dari hari raya Lupercalia tersebut. Entah nyambung atau nggak, lambing hati juga digunakan sebagai lambang dari hari Valentine.
Sobat, kalo kamu jeli dan nggak ngantuk baca tulisan ini. Di awal tadi sudah diceritakan tentang Dewa Baal. Nah dewa Baal ini adalah dewa yang dibenci oleh Tuhan nya umat Kristen (Zefanya 1:4). Memang dari segi sejarah (kalo bisa dikatan sejarah, karena bisa jadi itu hanya dongeng rekaan) sebenarnya nggak ada kaitan antara kepercayaan Romawi kuno dengan agama Kristen. Tapi seiring berkembangnya waktu, pihak Gereja kayaknya kuwalahan mengatasi tradisi yang sebenarnya diakui juga oleh Kristen sebagai penyimpangan. Akhirnya ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen. Pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).
Oleh: Luky B Rouf
The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day : “Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers.”
Kalo ngobrolin Valentine’s Day (V-Day) cucok banget kalo dimulai dari ngebahas si empunya hari, siapa lagi kalo bukan si Valentine. Yup, Valentine ini bukan Valentino “the doctor” Rossi, si pembalap tangguh yang bernomor favorit 46 itu, tapi Valentine ini yang hidup di masa Romawi kuno, tepatnya di masa Kaisar Cladius II. Memang ada beberapa versi cerita tentang V-Day, termasuk tentang seseorang yang bernama Valentine. Ada sebagian versi menceritakan dengan nama “Valentine”, di cerita lain bernama “Valentino”, bahkan ada yang bilang juga “Valentinus” (backsound: kali aja saat itu ahli sejarahnya salah ketik, karena lagi ngantuk ya..hee..hee). Valentine atau Valentinus sebenarnya adalah nama seorang Martyr, yakni seorang Kristen yang terbunuh karena mempertahankan ajaran agama yang dianutnya. Valentino adalah nama seorang uskup pada abad ke-3 Masehi di masa Romawi (The Standart International Dictionary, XVIII, p. 5090).
Catatan mengenai pendeta yang bernama Santo Valentine itupun masih bias karena hingga saat ini berkembang banyak versi, termasuk tentang latar belakang sejarah vonis hukuman mati yang dijatuhkan oleh penguasa romawi saat itu. Catatan pentingnya adalah kalo diliat dari segi nama aja, udah ketahuan belangnya bahwa sejarah tentang orang yang bernama Valentine itu, nggak jelas. Mungkin dari sebagian sobat remaja ada yang bergumam “ngapain kita ribut masalah nama segala, yang penting khan udah ketahuan kalo akhirnya orang menyebutnya Valentine?”. Well, justru disini letak persoalannya sobat, kejelasan riwayat nama aja bisa ngebuktiin kalo emang sebenarnya cerita itu benar, atawa emang menunjuk pada satu orang. Misal aja neh, kalo di kelasmu ada dua orang yang bernama Parno, padahal keduanya bukan saudaraan, maka salah satunya kudu diperjelas dengan sederet cirinya masing-masing. Dari selidik punya selidik, Parno satunya ternyata nama lengkapnya Suparno, sedang satunya namanya mirip bintang film, Parno Karno… (yee.. itu sih Rano Karno).
Ok, kembali ke masalah Valentine, berarti satu belang udah ketahuan dari segi sejarah nama orang yang dirayain kematiannya tanggal 14 Februari itu. Para pastor Romawi menentukan tanggal 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine. Sekarang ini, hari tersebut lebih dikenal sebagai hari Valentine. Kemungkinan pertama bahwa tiga nama itu menunjuk pada satu orang, atau kemungkinan kedua emang tiga nama itu untuk tiga orang yang masing-masing beda. Mana yang benar? Wallahu’alam. Tapi yang jelas, sekali lagi ini bukti nyata senyata-senyatanya, betapa amburadulnya sejarah orang bernama Valentine. Mustinya neh, para pengagum, penikmat V-Day, udah saatnya menanyakan kengawuran sejarah V-Day ini.
Kata “Valentine” itu sendiri berasal dari bahasa Latin Valentinus yang artinya gagah perkasa. Ketika itu, kalo orang ngasih pujian Valentinus atau gagah perkasa sebenarnya ngasih pujian kepada dewa Baal. Sedang Raja Baal yang pertama namanya adalah Nimrod. Siapa itu Nimrod, trus apa hubungan V-Day dengan Nimrod?
Begini sobat, menurut legenda Yunani Kuno, Nimrod ini dikenal sebagai seorang pemburu anjing ajak yang gagah perkasa. Dalam bahasa Yunani Nimrod lebih dikenal sebagai Pan, sedangkan anjing ajak dalam bahasa Latin disebut Lupus. Nah, oleh orang Rumawi Nimrod dinamakan sebagai Lupercus atau si pemburu anjing ajak. Kalo sobat pernah denger peringatan atau festival Lupercalia yang menurut legenda diperingati setiap tanggal 15 Februari, nah sebenarnya itu diambil dari kata Lupercus. Lupercalia sendiri adalah hari perayaan untuk mendewakan Lupercus alias si pemburu anjing ajak, alias si Nimrod, alias si dewa Baal, alias si Valentinus atau Valentine. Tuhhh khan, ternyata bukan Imam Samudera cs, aja yang punya banyak alias, Valentinus pun punya banyak alias.
Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Tapi sobat di versi lain, di tempat yang sama di Roma dan tanggal yang sama 15 Februari, Lupercus justru untuk menamai sang Dewa Kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata. (VCD Valentines day, Irene Handono)
Wah belang lagi deh. Ternyata emang nggak ada kesepakatan dari para ahli sejarah tentang Lupercalia. Tapi bukan bermaksud membela atau membenarkan sejarah Lupercalia, tapi yang sering dipakai malah versi yang pertama. Nggak menutup kemungkinan versi kedua bisa jadi juga benar. Waduh, tambah pusing binti bingung ya ama sejarah V-Day? Ok, daripada pusing tujuh kali 100 keliling putar lapangan, mending dilanjutin dulu ceritanya.
Konon orang Rumawi banyak yang pengin anaknya gagah perkasa kayak Nimrod, makanya mereka seringkali ngasih nama anaknya Valentine, termasuk mungkin ortunya Valentine yang katanya merupakan seorang pastur yang dipancung di masa Kaisar Cladius II pada abad III Masehi itu.
Di hari Valentine biasanya nggak komplit kalo nggak ada Cupid sang dewa asmara. Cupid biasanya digambarkan dalam bentuk malaikat kecil bersayap dalam keadaan bugil, yang biasanya bawa panah, dan siap memanah pasangan muda-mudi untuk terpanah asmara, katanya sih begitu. But, tahu nggak sobat, Cupid itu sebenarnya adalah gambaran atau lambang ketika Nimrod masih kecil. Makanya kenapa si Cupid itu selalu membawa panah, karena emang menurut legenda seperti yang saya ceritakan sebelumnya tadi, kalo Nimrod adalah seorang pemburu. Cuman yang jadi nggak matching, kalo Nimrod adalah pemburu anjing ajak, tapi kalo Cupid koq digambarkan sebagai pemanah asmara. Wah, emang amburadul benar ya legendanya?!
Tapi emang dasar orang Pagan, nggak tahu mana benar, mana salah, yang penting kalo itu udah jadi kepercayaan kakek moyangnya, ya itu yang terus dijadiin tradisi. Termasuk masih menurut legenda itu juga, diceritakan kalo di masa mudanya Nimrod adalah seorang cowok yang cakep banget. Bahkan kalo ditelusur dari kata valentine tadi, Nimrod alias si Valentine adalah gagah perkasa. Karena saking guantengnya itulah, ia banyak digandrungi sama banyak kaum perempuan (Daniel 11:37) yang bikin nafsu birahi mereka jadi bangkit terbang melayang. Itulah kenapa Nimrod di masa kecilnya juga dikasih nama Cupid yang dalam bahasa Latin disebut Cupere kalo diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai Desire alias membangkitkan nafsu birahi. Jadi Cupid itu memanah bukannya untuk bikin orang jadi saling jatuh cinta, melainkan untuk membikin nafsu birahi orang jadi bangkit. Nah loe ketahuan, makanya kamu nggak usah bangga deh, kalo kamu lagi jatuh cintrong, trus ngerasa di panah sama si Cupid, padahal sebenarnya bukan dipanah tapi dipanas-panasi untuk bernafsu birahi. Hiii… jijay deh.
So, kegantengan Cupid alias Nimrod ini emang ibarat daya magnet yang luar biasa dahsyatnya, sampe-sampe nggak cuman kaum hawa disekitarnya aja yang kena sihir kegantengannya, bahkan ibu kandungnya Nimrod aja Semiramis juga jadi korban, sehingga akhirnya ia mengawini anak kandungnya sendiri itu. Gubrak !
Nah, di tanggal 15 Februari, Nimrod dan Ibunya mengakui kesalahan mereka, sebagai ibu dan anak. Padahal di cerita sebelumnya tanggal 15 Februari dinobatkan sebagai festival Lupercalia. Kenapa bulan Februari? Katanya si empunya dongeng bulan Februari itu sebenarnya berasal dari kata Februa yang artinya penyucian. Ya, penyucian alias pertaubatan dosa si Nimrod dan ibunya, yang katanya mereka akhirnya sadar kalo percintaan yang mereka lakukan itu nggak benar. (Catholic Encyclopedia, 1908)
Kerajaan Babilonia berasal dari kerajaan Baal yang memuliakan dewa Baal. Dalam bahasa kuno Kaldea atau bahasa Babilonia pada saat itu bal berarti hati, maka dari itu juga hati sering jadi lambang dari dewa Baal. Lambang hati ini juga digunakan sebagai lambang dari hari raya Lupercalia tersebut. Entah nyambung atau nggak, lambing hati juga digunakan sebagai lambang dari hari Valentine.
Sobat, kalo kamu jeli dan nggak ngantuk baca tulisan ini. Di awal tadi sudah diceritakan tentang Dewa Baal. Nah dewa Baal ini adalah dewa yang dibenci oleh Tuhan nya umat Kristen (Zefanya 1:4). Memang dari segi sejarah (kalo bisa dikatan sejarah, karena bisa jadi itu hanya dongeng rekaan) sebenarnya nggak ada kaitan antara kepercayaan Romawi kuno dengan agama Kristen. Tapi seiring berkembangnya waktu, pihak Gereja kayaknya kuwalahan mengatasi tradisi yang sebenarnya diakui juga oleh Kristen sebagai penyimpangan. Akhirnya ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen. Pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).

